MOJOKERTO – Baru-baru saja Presiden Jokowi bersama Polri mencanangkan program keselamatan untuk kemanusiaan serentak di seluruh Indonesia. Lantaran persoalan jalanan bukan hanya menimbulkan kecelakaan (Accident) namun juga menjadi pemicu konflik sosial.

Program Keselamatan untuk kemanusiaan tersebut dikonkritkan oleh Satlantas Polresta Mojokerto dalam beberapa Program unggulan berbasis tepat guna dan manfaat.

Salah satunya Yaitu Program MTQ atau (Mental Traffic Quality). MTQ merupakan salah satu program unggulan Satlantas Polres Mojokerto Kota Yang digagas oleh Kapolres Mojokerto Kota AKBP Puji Hendro Wibowo, SH, S.IK dan disempurnakan oleh Kasatlantas Polresta Mojokerto AKP Edwin Nathanael, SH, S.IK. dengan menggandeng sebuah lembaga Training Motivasi berskala nasional yaitu Thanks Institute Indonesia.

Kapolres Mojokerto Kota Menjelaskan bahwa Filosofi awal dari program ini adalah sebagai teraphy dan motivasi mental kepada pelanggar saat operasi Zebra Semeru tanggal 1-14 Nov lalu. Namun nantinya juga akan berkelanjutan untuk semua pelajar di Kota Mojokerto.

Mengapa menggunakan pendekatan Training dan Motivasi? Agar ada nuansa baru dalam penyampaian dikmas lantas, dan metode Training jauh lebih efektif karena sudah teruji hasilnya dapat menggugah dan mengubah kesadaran pengendara akan ketertiban dan kedisiplinan serta merevolusi mental pengendara,”kata Kapolres Mojokerto Kota AKBP Puji Hendro Wibowo, SH, S.IK.

Kasatlantas Polresta Mojokerto AKP Edwin Nathanael, SH, S.IK juga menjelaskan bahwa Penilaian WHO tentang kecelakaan lalu lintas sudah menjadi pembunuh terbesar ketiga di Dunia, setelah stroke dan jantung perlu menjadi perhatian bersama bukan hanya Polantas, namun masyarakat Umum Pengguna Jalan, pengusaha angkutan, pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya.

“Pasalnya 1 orang meninggal karena flu burung banyak yang ramai dan gempar membicarakannya, namun puluhan orang yang meninggal tiap hari di jalan raya hanya menjadi buah bibir murahan dan dianggap biasa” kata AKP Edwin.

“Maka MTQ Menjadi sebuah Resolusi Kongkrit Merevolusi mental pengendara karena kebiasaan buruk yang menjalar seolah menjadi budaya dan melanggar menjadi hal biasa inilah penyakit mental dalam berkendara yang harus di revolusi dengan MTQ” ucap AKP Edwin

Motivator di acara Training MTQ Ketut Abid Halimi, S.Pd.I, M.Pd. juga mengatakan, perlu dingat juga bahwa semua pengguna jalan tersebut baik yang menjadi pelaku kecelakaan atau yang menjadi korban kecelakaan tersebut adalah orang yang beragama. Indonesia sebagai mayoritas pemeluknya Beragama muslim namun justru menjadi korban sekaligus pelaku kecelakaan yang terbanyak.

Maka perlu didekonstruksi cara pandang bergamanya yang lebih universal melalui training MTQ.

Perlu dilakukan pembenahan pemahaman agama yang lebih universal bahwa ibadah bukan hanya sholat, zakat, dan haji, dan ibadah bukan hanya di masjid, gereja, pura, wihara , namun lebih dari itu bahwa berkendaraan yang tertib juga menjadi ibadah karena wujud akhlaqul karimah. Dan jalan raya pun bisa menjadi sajadah untuk beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Kanit Regident Satlantas polresta Mojokerto Iptu Darul yang juga ‘mengawal’ kelancaran acara Training MTQ tersebut terakhir kali berpesan juga kepada awak media, “jalan tidak semerta-merta menjadi lebar, kendaraan tidak semerta-merta dapat dibatasi, maka bersabarlah di jalan, luaskan sabarnya, batasi emosinya”
“Stop Pelanggaran, Stop Kecelakaan, Keselamatan Untuk Kemanusiaan” kata Iptu Darul.

Sunber: AKP Edwin Nathanael, SH, S.IK Kasatlantas Polresta Mojokerto.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here