Setahun sudah Mustina Sinaga (38) dikurung dalam bangunan kayu berukuran 2 x 2 meter di Desa Ladang Tengah, Kecamatan Amdan Dewi, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.

Tepat di bawah pintu yang berpalang dan bergembok, ada lubang kecil tempat memasukkan dan mengeluarkan makanan, juga keperluan sehari-hari lainnya. Lubang berukuran sekitar 15 x 20 sentimeter itu juga menjadi jendela bagi Mustina untuk melihat dunia luar.

Saat mendengar langkah kaki dan suara orang datang, Mustina sigap melongok ke lubang kecil. Rupanya, ibundaya Kamna Manullang yang datang membawa makanan. Kamna tak sendirian, dia bersama Opung Parulian Simatupang, Erlis Manalu, Aminah Panjaitan, dan beberapa wartawan.

Semakin mendekati gubuk Mustina, raut wajah Kamna terlihat mendung. Dia tak tahan melihat penderitaan anak pertamanya yang harus dikurung sendirian di tengah ladang itu.

“Uda, Mami, Ibu, tolong bukakanlah gembok kurunganku ini. Aku tak tahan lagi diikurung di sini. Aku bukan gila, aku bukan sakit. Tolong keluarkanlah aku, Ibu. Tolong keluarkanlah aku,” jerit  Mustina.

Seketika air mata Kamna jatuh tak terbendung, deras hingga membuatnya terisak. Teman-temannya coba menenangkan, tetapi wajah mereka pun berduka. Bahkan Opung Parulian Simatupang dan Katarina Sigalingging ikut menangis.

Kepada wartawan, sambil menggenggam tangan, Kamna bercerita bahwa Mustina adalah putri sulung dari empat bersaudara pasangan Irwan Sinaga dan Kamna.

Mustina menamatkan sekolahnya di MAN Barus pada 2012. Lepas sekolah, dia merantau ke Medan. Tak lama di perantauan, Mustina menikah dengan Suhery Jawa.

“Belum sebulan melahirkan anak pertamanya, penyakit Mustina datang. Dia depresi, diduga akibat impitan eknomi,” ucap Erlis, Minggu (12/11/2017).

Kamna membenarkan cerita itu dengan mengangguk. Pelan suaranya saat berucap, hanya masalah kecil yang membuat anaknya tertekan jiwanya.

“Maklumlah orang berumah tangga, bisa saja ada pertengkaran, banyak kebutuhan baru melahirkan. Suami Mustina pun pergi, alasannya kerja, tapi tak pulang seharian tanpa meninggalkan pesan. Mustina sangat terpukul, dari situlah awalnya, sebulan Mustina pingsan,” kata Kamna.

“Setelah kami bawa berobat, Mustina sehat, tapi habis melahirkan anak kedua, penyakitnya kambuh. Kelakuannya menjadi-jadi, kadang memaki orang, jalan-jalan ke orang sampai menginap di rumah orang. Kami takut terjadi yang tidak-tidak, makanya kami kurung,” ucap Kamna dengan suara parau.

Dia bersama warga desa yang peduli nasib Mustina berharap perhatian pemerintahan dari Bupati Bakhtiar Ahmad Sibarani untuk membawanya berobat. Pihak Puskesmas Amdan Dewi juga sudah pernah datang menjenguk Mustina dan memberikan obat.

“Harapan kami, ada kelanjutannya, sampai ke rumah sakit jiwa di Medan. Biar bisa dia ngurus anak-anaknya, jadi ibu untuk anak-anaknya,” ujar Kamna.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here